Ratusan Pelayat Antar Jenazah Orang Tua Wali Kota Pontianak

id Sutarmidji, atusan Pelayat Antar Jenazah Orang Tua Walikota Pontianak
Ratusan Pelayat Antar Jenazah Orang Tua Wali Kota Pontianak
Wali Kota Pontianak Sutarmidji (Istimewa)
Pontianak (Antara Kalbar) - Ratusan pelayat mengantarkan jenazah almarhum H Muhammad Thahir, ayah dari Wali Kota Pontianak, Sutarmidji menuju ke peristirahatan terakhir di Pemakaman Gang Tengah Kelurahan Tengah Kecamatan Pontianak Kota, Jumat (24/2).

Sebelumnya, almarhum dishalatkan di Masjid Al Manar Jalan Nurali selepas Shalat Jumat. Mulyadi, adik dari Sutarmidji yang juga menjabat sebagai Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Pontianak, mewakili pihak keluarga almarhum, menyampaikan terima kasih dan permohonan maaf kepada para pelayat, apabila semasa hidup mendiang ada kesalahan baik disengaja atau tidak.

Sementara Wali Kota Pontianak Sutarmidji, mengenang semasa hidup almarhum kerap memberi makan burung-burung liar yang setiap pagi hinggap di depan rumah orang tuanya di Jalan Rajawali.

Bahkan mendiang ayahnya, setiap hari memasak beras setengah kilogram untuk diberikan kepada burung-burung itu. Terkadang, lanjutnya, beras untuk makan burung dibelinya sendiri, tidak menggunakan beras yang dimakan sehari-hari di rumah.

"Makanya setiap pagi banyak burung yang hinggap di depan rumah. Itu karena mendiang kerap memberi makan pada burung-burung liar seperti burung pipit, burung gereja dan lainnya. Waktu di rumah sakit, dia sempat menanyakan siapa yang akan memberi makan burung-burung itu," kata Sutarmidji.

Tidak hanya itu, dalam keseharian almarhum semasa hidupnya, selalu dalam kesederhanaan dan tak sungkan belanja sendiri atau sekadar menikmati minum kopi di Pasar Tengah.

Setiap pergi ke Pasar Tengah, ia tidak mau diantar dengan mobil tetapi lebih memilih menggunakan becak. Bahkan diakui Midji, selama dirinya menjabat Wali Kota, mendiang ayahnya hanya dua kali menginap di rumah dinas, itu pun kalau kebetulan ada acara di rumah dinasnya.

"Hari pertama masuk rumah sakit, dia sempat berkata hendak menggunting rambut di Pasar Tengah," kenangnya.

Satu hal niat Sutarmidji yang belum kesampaian adalah mengajak ayahnya ke Taman Nostalgia yang ada di depan kantor Wali Kota Pontianak. Sebab menurutnya, almarhum dulunya boleh dikatakan sebagai seorang seniman yang pandai bermain biola.

"Saya belum kesampaian mau mengajaknya ke Taman Nostalgia untuk bermain lagu keroncong tapi takdir menentukan lain, kita ikhlaskan kepergian almarhum," katanya.

Diakuinya, tanda-tanda kepergian almarhum untuk selama-lamanya sudah nampak dari beberapa kejadian sebelumnya. Beberapa pekan lalu, Wali Kota dua periode ini sempat merayakan ulang tahun perkawinannya serta orang tuanya yang sudah memasuki ke-68 tahun.

Kala itu, pukul 11.00 sampai 12.00 WIB, mendiang sampai dua kali minta dibuatkan kopi. Tapi anehnya, kata Sutarmidji, saat putri sulungnya wisuda kemudian foto bersama dengan mendiang, ketika ditawari dibuatkan kopi, dia tidak mau.

Beberapa hari kemudian, kakak dari Sutarmidji meninggal dunia, tepatnya 25 hari yang lalu. Padahal pekan itu mendiang sempat pergi ke Sungai Kunyit menghadiri undangan resepsi pernikahan. Bahkan sempat berbincang-bincang dengan kakak Sutarmidji.

"Malamnya, kakak saya meninggal, mungkin itu pula yang membuat ayah saya shock," ungkapnya.

Waktu opname di rumah sakit, mendiang merasa napasnya sesak. Indikasi penyakit yang diderita almarhum infeksi paru-paru, kemudian merembet hingga ke hati. Terakhir, kondisi ayahnya sempat normal.

Namun kemudian, sejak memasuki waktu Shalat Ashar, tangannya diletakkan di atas dada seperti orang shalat. Ketika tangannya dipindahkan ke atas tempat tidur, kembali lagi ia meletakkan tangannya di atas dada. Sebelum Sutarmidji pamit untuk Shalat Maghrib, dirinya sempat membisikkan ke telinga almarhum supaya apa yang sudah diberikan ayahnya kepada dirinya dan saudara-saudaranya minta diikhlaskan.

"Saya sebut satu-persatu nama anak-anaknya di telinga beliau masih menyahut," imbuhnya.

Setelah itu, lanjut Sutarmidji, dirinya pamit untuk Shalat Maghrib, tetapi ia berpesan kepada abangnya supaya tetap menunggu ayahnya di rumah sakit. Mungkin juga sebagai pertanda, tanpa disengaja, dirinya sempat mengenakan pakaian berwarna hitam-hitam tetapi begitu menyadarinya, ia langsung mengganti pakaian berwarna hijau.

"Begitu saya selesai Shalat Maghrib dan kembali ke rumah sakit, ayah saya sudah menghembuskan napas terakhirnya

Almarhum H Muhammad Thahir meninggal dunia dalam usia 89 tahun di Rumah Sakit Mitra Medika pada Kamis (23/2) pukul 18.50 WIB.

 (KR-DDI/N005)

Editor: Nurul Hayat

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga

Generated in 0.011 seconds memory usage: 0.36 MB